Penyakit Lupus

Lupus adalah penyakit peradangan(inflamasi) kronis yang disebabkan olehsistem imun atau kekebalan tubuh yang menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri. Penyakit seperti ini disebut penyakit autoimun. Pada kondisi normal, sistem imun akan melindungi tubuh dari infeksi. Akan tetapi pada penderita lupus, sistem imun justru menyerang tubuhnya sendiri. Lupus dapat menyerang berbagai bagian dan organ tubuh seperti kulit, sendi, sel darah, ginjal,paru-paru,jantung, otak, dan sumsum tulang belakang.

Ada beberapa jenis penyakit lupus yang ada, yaitu:
• Systemic lupus erthematosus (SLE), merupakan jenis lupus yang paling sering terjadi. Jenis penyakit ini menyerang berbagai jaringan seperti, sendi, kulit, otak, paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah.
• Discoid lupus erthematosus, adalah jenis lupus yang menyerang jaringan kulit, sehingga menyebabkan ruam-ruam.
• Neonatal lupus adalah penyakit lupus yang menyerang bayi baru lahir. Penyakit ini dialami oleh bayi yang dilahirkan ibu yang memiliki kelainan antibodi.
• Lupus akibat obat-obatan, gangguan ini biasanya hanya dialami dalam waktu yang singkat saja. Jadi beberapa obat-obatan mungkin saja menimbulkan efek samping yang gejalanya mirip lupus. Kondisi pasien akan membaik kalau penggunaan obat dihentikan.
• Subacute cutaneous lupus erythematosus, merupakan lupus yang membuat jaringan kulit luka dan terbakar ketika terpapar sinar matahari.

Penyakit lupus termasuk peyakit yang jarang terjadi. Meski belum diketahui angka yang pasti, namun di Indonesia sendiri, orang yang mengalami penyakit ini ada sekitar 12.700 jiwa pada tahun 2012. Kejadian penyakit ini kemudian meningkat menjadi 13.300 pada tahun 2013. Sebagian besar orang yang memiliki penyakit lupus adalah wanita. Dilaporkan bahwa sebanyak 90% kasus penyakit lupus yang terjadi dialami oleh wanita. Alasan hal ini belum diketahui dengan pasti sampai sekarang. Tetapi, sebuah studi yang diterbitkan dalam Annals of the Rheumatic Disease menyatakan kalau hal ini terkait dengan kromosom gen yang dimiliki wanita. Selain itu, kebanyakan kasus lupus terdeteksi pada pasien yang berusia 15-45 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan kondisi ini terjadi pada anak-anak dan orang tua.
Lupus adalah penyakit kronis yang diakibatkan oleh gangguan di dalam tubuh, sehingga sudah pasti bukan virus atau bakteri penyebab utamanya. Faktanya, para ahli belum mengetahui dengan pasti apa penyebab lupus. Ada banyak faktor yang mungkin menyebabkan hal ini. Namun, beberapa teori menyatakan bahwa penyakit lupus disebabkan karena adanya interaksi gen, hormon, dan lingkungan. Beberapa faktor yang diduga dapat memicu timbulnya penyakit lupus pada seseorang, antara lain adalah:
Faktor genetik. Diduga terdapat hubungan antara pengaruh faktor genetik dan lupus karena seringkali ditemukan adanya anggota keluarga penderita yang juga merupakan penderita lupus.

Hormon. Sembilan dari sepuluh penderita lupus adalah wanita. Wanita menghasilkan hormon estrogen lebih banyak dibanding pria. Estrogen diketahui sebagai hormon yang memperkuat sistem kekebalan tubuh (immunoenhancing), yang artinya wanita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dibanding dengan pria. Untuk alasan ini, wanita lebih mudah terserang penyakit autoimun bila dibandingkan dengan pria. Perubahan hormon saat masa pubertas atau kehamilan juga dapat memicu timbulnya lupus. Tingginya kadar estrogen saat hamil diduga memicu lupus.

Lingkungan. Berbagai macam faktor lingkungan yang diduga dapat memicu timbulnya lupus antara lain infeksi bakteri dan virus (salah satunya virus Epstein Barr), stres, paparan sinar matahari (ultraviolet), merokok, serta beberapa zat kimia seperti merkuri dan silika.

Lupus adalah penyakit yang dikenal sebagai ‘penyakit 1000 wajah’. Sebutan ini muncul akibat penyakit kronis ini menimbulkan gejala dan tanda yang hampir mirip dengan penyakit lainnya. Sehingga, penyakit ini cenderung sulit untuk dideteksi dini. Berikut adalah beberapa gejala dan tanda yang biasanya dialami oleh odapus, menurut American College of Rheumatology:
• Nyeri sendi
• Sendi bengkak
• Mulut atau hidung mengalami luka yang tak kunjung sembuh berhari-hari hingga berbulan-bulan.
• Di dalam urin terdapat darah atau bahkan protein (proteinuria)
• Terdapat ruam-ruam di berbagai permukaan kulit
• Rambut rontok
• Demam
• Kejang-kejang
• Dada sakit dan sulit bernapas akibat peradangan pada paru-paru

Sampai saat ini, penyakit lupus adalah penyakit yang belum ditemukan obatnya. Jadi orang yang mengalami penyakit lupus tidak bisa disembuhkan secara total. Namun, pasien tetap akan menerima pengobatan. Pengobatan yang dilakukan adalah bertujuan untuk:
• Mencegah munculnya gejala akibat lupus
• Mengurangi berbagai gejala lupus
• Mengurangi kerusakan organ dan masalah lainnya
• Mengurangi pembengkakan dan nyeri
• Menenangkan sistem kekebalan tubuh
• Mengurangi atau mencegah kerusakan sendi
• Menghindari komplikasi

Biasanya pengobatan yang dilakukan adalah dengan cara memberikan pasien obat untuk meringankan gejala atau gangguan kesehatan lain. Obat yang diberikan seperti:
1. Obat anti-peradangan nonsteroid (NSAIDs)
Obat ini termasuk obat penghilang rasa sakit yang biasa diberikan pada odapus untuk mengatasi rasa nyeri, demam, dan sendi bengkak yang ia alami. Contoh dari jenis obat NSAIDs adalah naproxen, ibuprofen, dan motrin. Sebagian besar obat NSAIDs tidak membutuhkan resep dokter, namun beberapa obat yang memiliki dosis dan efek samping yang kuat harus menggunakan resep.

2. Obat antimalaria
Obat ini sebenarnya digunakan untuk mencegah dan mengatasi penyakit malaria. Namun dalam hal ini, obat malaria dibutuhkan oleh odapus untuk mengatasi gejala nyeri sendi, ruam kulit, peradangan pada selaput jantung, serta demam – yang juga biasanya terjadi pada pasien malaria. Bahkan berbagai penelitian telah menunjukkan kalau pasien lupus yang diberikan obat malaria memiliki angka harapan hidup yang lebih pajang ketimbang yang tidak diberika obat ini. Jenis obat malaria yang diberikan yaitu, Hydroxychloroquine (Plaquenil), Chloroquine (Aralen), Quinacrine (Atabrine).

3. Kortikosteroid
Obat jenis ini dibutuhkan oleh pasien lupus untuk mencegah peradangan yang sangat rentan terjadi pada tubuhnya. Namun, obat kortikosteroid memiliki efek samping jangka panjang seperti menaikkan berat badan, membuat tulang lebih keropos, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

4. Imunosupresan
Obat imunosupressan bekerja untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Tentu, obat jenis ini sangat dibutuhkan oleh para odapus yang sistem kekebalan tubuhnya terlalu dominan. Beberapa jenis obat yang biasanya digunakan yaitu azathioprine (Imuran, Azasan), mycophenolate (CellCept), leflunomide (Arava) and methotrexate (Trexall). Penggunaan obat imunosupressan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan hati, menurunkan kesuburan, dan meningkatkan risiko kanker. sementara, efek samping jangka pendek yang mungkin terjadi yaitu mual, diare, dan demam.

Dibuat oleh:
Salsabila Nur I. A.

Daftar Sumber:
http://www.alodokter.com/lupus/penyebab
http://www.alodokter.com/lupus

Apa Itu Penyakit Lupus? Benarkah Tak Bisa Disembuhkan?

Admin

Post A Reply

000webhost logo